Tuesday, September 1, 2015

Kondisi Perekomonian Indonesia Menurut Laporan BI Agustus 2015


Dalam Rapat Pimpinan Gubernur Ahok bersama dengan Bank Indonesia, kita mengetahui situasi dan kondisi perekomonian nasional sekarang dari kacamata Bank Indonesia (BI). Salah satu faktor yang disinggung adalah Devaluasi Yuan. Mengapa, karna menurut data Pertumbuhan Eksport Tiongkok menurun dalam beberapa tahun kebelakang. Pelemahan Rupiah ada 3 Faktor, Faktor Perdagangan (eksport import ) Faktor Perusahaan (yang mengandalkan sumber bahan baku dari luar negeri dalam operasionalnya) dan terakhir Faktor Inflasi, ketiga-nya memberikan dampak signifikan dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Dari data kita tahu bahwa jumlah wisatawan tiongkok ke Indonesia lebih sedikit daripada jumlah wisatawan indonesia ke tiongkok. Berdasarkan data dan sistem monitoring dan evaluasi pemrov DKI per agustus 2015, realisasi belanja baru mencapai 12.3 Triliun atau 19% dari anggaran. Salahkan kepada SKPD yang tidak becus menghabiskan anggaran hingga 100% tiap tahun, tapi masih sibuk mencari celah menyolong dengan anggaran siluman.

Kondisi Perekomonian Indonesia Menurut Laporan BI Agustus 2015


Ahok langsung berpikir untuk memprioritaskan bagian pangan terutama BERAS di DKI Jakarta harus berlimpah dengan sistem resi gudang BULOG yang terintegrasi, ada Penggemukan Sapi, Ayam, Telur yang terpadu yang bisa menjamin keberlangsungan stok kebutuhan masyarakat DKI Jakarta, dan Ikan yang harus diurus secara  professional dengan cara budidaya ikan dengan anggaran dari DKI Jakarta. Potensi paling besar di Indonesia adalah lautan.

Ahok akan mengancam Ancol untuk memperbaiki biaya masuk ke Marina di gratiskan, tanpa harus bayar, karna ini bagian dari umum, nelayan atau siapapun yang mau ke kepulauan seribu tidak harus bayar, dan ini harus diubah dalam tahun ini.




No comments:

Post a Comment